ASSALAMU'ALAIKUM WR WB

WARNET ARIF MENYEDIAKAN
1.INTERNET,CHATING
2.SABLON KAOS
3.PULSA
4.CETAK FOTO BERBAGAI UKURAN
5.UNDANGAN
6.SETIKER FOTO
7.JUAL DVD/VCD
8.PENGETIKAN
9.KHURSUS
PROGRAM KEAHLAIN
"multimedia"

Sabtu, 26 Februari 2011

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar


Proses belajar merupakan  hal yang kompleks. Siswalah yang menentukan terjadi atau tidak terjadi belajar. Terjadinya suatu proses belajar timbul suatu aktivitas pengalaman belajar.  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ada dua faktor, pertama faktor internal yakni, keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa dan kedua faktor eksternal, yakni kondisi lingkungan/di luar diri siswa.
1.      Faktor Internal (keadaan siswa)
Faktor internal terdiri dari dua faktor, yakni:
a)  Faktor fisiologis, yaitu meliputi segala hal yang berhubungan dengan keadaan fisik/jasmani individu seseorang, dan pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang.  Faktor tersebut meliputi kondisi fisik yang normal dan kondisi kesehatan fisik

Menurut Noehi Nasution, dkk. dalam Syaiful Bahri Djamarah, bahwa, “orang yang dalam keadaan segar jasmaninya berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan”.[1] Anak-anak yang kekurangan gizi; mereka lekas lelah, mudah mengantuk, dan sukar menerima atau memperhatikan  pelajaran.

b)     Faktor Psikologis. Belajar pada hakikatnya adalah proses psikologis.  Oleh karena itu, semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang.  Faktor tersebut adalah:
1.      Minat dan Usaha
Menurut Slameto bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat.[2]


2.      Inteligensi (kecerdasan)
Menurut Wechler dalam Dimyati dan Mudjiono, bahwa inteligensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan untuk dapat bertindak secara terarah, berpikir secara baik, dan bergaul dengan lingkungan secara efisien. Kecakapan tersebut menjadi aktual bila siswa memecahkan masalah dalam belajar atau kehidupan sehari-hari.[3]



3.      Bakat
Disamping inteligensi, bakat merupakan faktor yang besar pengaruhnya terhadap proses dan hasil belajar seseorang dalam suatu bidang tertentu. Bakat adalah “salah satu kemampuan manusia untuk melakukan suatu kegiatan dan sudah ada sejak manusia itu ada”.[4]


4.      Motivasi
Motivasi adalah “daya penggerak atau pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaan, yang bisa berasal dari dalam diri dan juga dari luar”.[5]  Motivasi yang bersal dari dalam diri (intrinsic) yaitu dorongan yang datang dari sanubari, umumnya karena kesadaran akan pentingnya sesuatu at-au dapat juga karena dorongan bakat apabila ada kesesuaian dengan bidang yang dipelajari.  Motivasi  yang berasal dari luar (ekstrinsik) yaitu dorongan yang datang dari luar (lingkungan), misalnya dari orang tua, guru teman-teman dan anggota masyarakat. Seseorang yang belajar dengan motivasi kuat, akan melaksanakan semua kegiatan belajarnya dengan sungguh-sungguh, penuh gairah atau semangat. Sebaliknya, belajar dengan motivasi yang lemah, akan malas bahkan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pelajaran. Jadi kuat lemahnya motivasi seseorang turut mempengaruhi keberhasilannya.


5.      Konsentrasi Belajar
Menurut Thursan Hakim, bahwa konsentrasi adalah “merupakan suatu kemampuan untuk memfokuskan pikiran, perasaan, kemauan, dan segenap panca-indra ke satu objek di dalam suatu aktivitas tertentu, dengan disertai usaha untuk tidak memedulikan objek-objek lain yang tidak ada hubungannya dengan aktivitas itu”.[6]

Pemusatan perhatian (fokus) tertuju pada objek/isi bahan belajar maupun proses memperolehnya, dan tidak terpengaruh dengan sekelilingnya. Konsentrasi sangat mempengaruhi proses belajar seseorang, apabila konsen-trasi menurun tentu menggangu belajarnya.  Hal ini sejalan dengan pendapat Rooijakker dalam Dimyati dan Mudjiono, mengatakan bahwa “kekuatan perhatian selama 30 menit telah menurun”.  Ia menyarankan agar guru memberikan istirahat selingan selama beberapa menit.[7]


6.      Kematangan dan Kesiapan
Kematangan merupakan suatu “tingkatan atau fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana seluruh organ-organ biologisnya sudah siap untuk melakukan kecakapan baru”.[8] Misalnya siap anggota tubuhnya untuk belajar.  Dalam konteks proses pembelajaran, kesiapan untuk belajar sangat menentukan aktifitas belajar siswa.  Siswa yang belum siap belajar, cenderung akan berprilaku tidak kondusif, sehingga pada gilirannya akan mengganggu proses belajar secara keseluruhan. Seperti siswa yang gelisah, ribut (tidak tenang) sebelum proses belajar dimulai. Jadi kesiapan amat perlu diperhatikan dalam proses belajar mengajar, karena jika siswa belajar dan padanya sudah ada kesiapan, maka hasil belajarnya akan lebih baik.  Kesiapan juga erat hubungannya dengan minat.


7.      Kelelahan
Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani (fisik) dan kelelahan rohani (psikis).  Kelelahan jasmani terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan muncul kecenderungan untuk membaringkan tubuh.  Kelelahan ini disebabkan oleh terjadinya kekacauan  subtansi sisa pembakaran di dalam tubuh, sehingga darah tidak atau kurang lancar pada bagian-bagian tertentu.  Sedangakan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk berbuat sesuatu termasuk belajar menjadi hilang.  Kelelahan jenis ini ditandai dengan kepala pusing, sehingga sulit berkonsentrasi, seolah-olah otak kehilangan daya untuk bekerja.


8.      Kejenuhan dalam Belajar
Menurut Reber yang dikutip oleh Tohirin dalam Muhibbin Syah, bahwa kejenuhan belajar adalah “rentang waktu tertentu yang digunakan untuk belajar, tetapi tidak mendatangkan hasil”.[9]  Seseorang siswa yang mengalami kejenuhan belajar, sistem akalnya tidak dapat bekerja sebagaimana yang diharapkan dalam memproses item-item informasi atau pengalaman baru, sehingga kemajuan belajarnya seakan-akan mandeg (stagnan) tidak mendatangkan hasil.

2.      Faktor Eksternal Siswa
a)     Faktor Lingkungan Keluarga
Keluarga adalah “ayah, ibu, dan anak-anak serta famili yang menjadi penghuni rumah”.[10] Faktor lingkungan rumah atau keluarga ini merupakan lingkungan pertama dan utama dalam menentukan perkembangan pendidikan seseorang, dan tentu saja merupakan faktor pertama dan utama pula dalam menentukan keberhasilan belajar seseorang.

Orang tua adalah penanggung jawab keluarga.  Dalam pendidikan keluarga menjadi suatu kebutuhan yang mendasar, sebab keluarga adalah awal dimana anak mengenal dengan orang lain dan dirinya sendiri, serta pertama-tama mendapatkan pendidikan, yaitu pendidikan yang diberikan oleh kedua orang tuanya dan merupakan kewajiban yang bersifat kodrati dan bersifat agamis.  Hal ini diterangkan dalam Firman Allah surah at-Tahriim ayat 6 yang artinya

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Ayat tersebut, jelas peran orang tua di lingkungan keluarga sangat memegang kunci.   Kalau dari awal proses belajar dan perkembangan anak  tetap tercurah oleh para orang tua, maka tercipta kondisi yang ideal bagi terwujudnya pola pikir anak ke arah pembelajaran yang baik

b)     Faktor Lingkungan Sekolah
Sekolah adalah lembaga formal terjadinya proses belajar mengajar. Selain pendidikan dalam keluarga, pendidikan di sekolah diperoleh seseorang secara teratur, sistematis, bertingkat mulai TK sampai keperguruan tinggi.

Salah satu yang menunjang keberhasilan belajar seseorang di sekolah adalah:
1.      Adanya kurikulum yang baik, yakni kurikulum sesuai dengan kemampuan siswa, sedangkan kurikulum kurang baik adalah kurikulum terlalu padat, di atas kemampuan siswa.
2.      Sarana prasarana, yakni lengkapnya prasarana dan sarana pembelajaran merupakan kondisi pembelajaran yang baik, karena adanya gedung sekolah dengan lengkap fasilitas belajar, seperti buku pegangan anak, ruang ibadah, laboratorium dan lain-lain.  Jadi adanya kelengkapan fasilitas dan sarana dapat mempengaruhi kegiatan belajar anak.  Anak didik dapat belajar dengan baik apabila suatu sekolah memenuhi segala kebutuhan belajar anak didik.
3.      Tata tertib dan disiplin. Menurut Thursan Hakim bahwa salah satu yang paling mutlaq harus ada di sekolah untuk menunjang keberhasilan belajar adalah adanya “tata tertib dan disiplin yang ditegakkan secara konsekuen dan konsisten”.[11] Disiplin tersebut harus ditegakkan secara menyeluruh, dari pimpinan sekolah yang bersangkutan, para guru, siswa sampai karyawan sekolah lainnya.  Dengan cara inilah dapat mempengaruhi prestasi belajar para siswa. Sebaliknya apabila dalam suatu sekolah tidak ada tata tertib dan kedisiplinan maka proses belajar tidak berjalan dengan baik, dan akhirnya prestasi siswa pun kurang baik.
4.      Guru. Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial di bidang pembangunan.  Guru yang baik adalah guru yang profesional, mengajar sesuai dengan keahliannya.  Apabila kurang ahli dalam bidang pelajaran tertentu, maka jadi sasarannya adalah siswa, yang kurang menguasai dengan materi.  Jadi guru profesional di sini dalam interaksi belajar mengajar diantaranya adalah sebagai berikut:
5.   Relasi guru dengan siswa. Proses interaksi siswa dengan guru, dipengaruhi hubungan yang ada.   Apabila guru dapat berinteraksi dengan siswa dengan baik, akrab, siswa akan menyukai gurunya, juga akan menyukai mata pelajaran yang diberikan oleh guru, sehingga siswa mempelajarinya dengan sebaik-baiknya.  Sebaliknya apabila guru kurang berinteraksi dengan siswa secara akrab, menyebabkan proses belajar mengajar kurang lancar.   Juga siswa merasa jauh dari guru, maka ia segan berpartisipasi secara aktif dalam belajar.
6.      Relasi siswa dengan siswa, yaitu hubungan yang akan mempengaruhi proses belajarnya, apabila siswa mempunyai sifat-sifat atau tingkah laku yang kurang menyenangkan teman lain, rendah diri, mengalami tekanan batin akan diasingkan dari kelompok.  Ia menjadi malas sekolah karena mengalami perlakuan kurang bagus dari temannya.   Jadi perlu hubungan baik antar siswa, agar dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap belajar siswa.[12]
c)      Faktor Lingkungan Masyarakat
1.      Kegiatan siswa dalam masyarakat, yakni kegiatan siswa dalam masyarakat dapat menguntungkan terhadap perkembangan pribadinya. Tetapi kalau kegiatan siswa terlalu banyak maka akan terganggu belajarnya, karena ia tidak bisa mengatur waktu.
2.      Media Massa, yang dimaksud dalam  media massa adalah  bioskop, radio, TV, surat kabar, buku-buku, komik. Dan lain-lain.  Media massa yang baik akan memberi pengaruh yang baik terhadap siswa dan juga terhadap belajarnya.  Sebaliknya media massa yang jelek juga berpengaruh jelek terhadap siswa.
3.      Teman bergaul. Pengaruh dari teman bergaul siswa lebih cepat masuk dalam jiwanya daripada yang kita duga. Teman yang baik membawa kebaikan, seperti membawa belajar bersama, dan teman pergaulan yang kurang baik adalah yang suka begadang, pecandu rokok, minum-minum maka berpengaruh sifat buruk juga.
4.      Bentuk kehidupan masyarakat, yakni apabila kehidupan masyarakat yang terdiri dari orang-orang berpendidikan, terutama anak-anaknya rata-rata bersekolah tinggi dan moralnya baik. Masyarakat yang terdiri dari orang-orang tidak terpelajar, penjudi, suka mencuri dan mempunyai kebiasaan yang tidak baik, akan berpengaruh jelek kepada anak yang berada dilingkungan itu.[13]


__________________________
[1] Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, Rineka Cipta, Jakarta, 2002, h. 135.
[2] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya, Rineka Cipta, 1991, h. 182.
[3] Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, h. 57.
[4] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, PT. Raja Grafindo, Jakarta, 2005, h. 46.
[5] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, h. 57.
[6] Thursan Hakim, Belajar Secara Efektif, Puspa Swara, Jakarta, 2000, h. 16.
[7] Dimyati dan Mudjiono, op. cit., h. 293.
[8] Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, Edisi Revisi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, h. 135.
[9] Ibid., h. 141.
[10] M. Dalyono, op. cit., h. 59.
[11] Thursan Hakim, op. cit., h. 18.
[12] Slameto. Op.cit., h. 68-69.
[13] M. Dalyono. Op.cit., h. 60

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar